• header1
  • header2

Selamat Datang di Website MIN 1 BANYUWANGI. Madrasah Inovatif, Kompetitif dan Berkualitas

Pencarian

Kontak Kami


MIN 1 BANYUWANGI

NPSN : 60715858

Jl. Ikan Wijinongko No. 10 Sobo Banyuwangi


min1banyuwangijoss@gmail.com

TLP :


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 46172
Pengunjung : 17693
Hari ini : 19
Hits hari ini : 41
Member Online : 0
IP : 3.239.2.192
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Pesantren Pencetak Jiwa Enterpreneur




Pesantren Pencetak Jiwa Enterpreneur

Oleh : Rohimah

 

Beberapa orang menganggap bahwa enterpreanur sama dengan pengusaha, sekilas terlihat sama namun berbeda, meskipun sama sama mempunyai usaha. Dwi Larso, Ph.d, seorang pengajar di School of Business Management, Institut Teknologi Bandung mengatakan bahwa pengusaha adalah orang yang memiliki bisnis skala besar maupun kecil dan tidak semua pengusaha memiliki jiwa entrepreneur. Sedangkan seorang entrepreneur pasti memiliki jiwa pengusaha, di mana mereka dapat memanfaatkan peluang dari setiap bisnisnya atau orang yang terjun ke dalam suatu bisnis. Di mana, jika kita memiliki jiwa entrepreneur, dapat dipastikan bisnis yang akan dijalani akan dapat terus bertahan.

Seorang santri di pondok pesantren telah dilatih untuk hidup mandiri, santri adalah pengambil resiko (risk taker). mereka telah berpindah dari zona nyaman berkumpul dengan keluarganya. dan tinggal di pesantren yang fasilitasnya seadanya.  Di pesantren mereka harus menyiapkan kebutuhan sehari hari secara mandiri. Hal ini sangat berbeda ketika masih bersama keluarganya, dimana semua kebutuhan sehari hari dilakukan oleh Ibunya, meskipun beberapa telah dilatih untuk mandiri, namun hal ini sangat berbeda dengan ketika berada dilingkungan pondok pesantren. Mereka dituntut untuk benar benar mandiri dalam segala hal, baik untuk kebutuhan sehari hari (meskipun finansial masih dari keluarganya), maupun dalam pembelajaran dan pendidikan. Meskipun sama sama berada di temoat yang jauh dengan orang tua, kehidupan di pesantren berbeda dengan tempat kost bagi pelajar maupun mahasiswa.

Di pesantren akan terbentuk jiwa mandiri, terlebih pada pondok pesantren masaa lalu yang tidak dilengkapi dengan fasilitas loundry dan catering untuk para santri. Mereka benar benar harus menyiapkan kebutuhan sehari hari secara mandiri, dengan seabrek pembelajaran yang harus dilalui semasa di ponsok pesantren. Dengan demikian jiwa enterpreneur akan terbentuk dari diri seorang santri. Terlebih beberapa pesantren juga memberikan pelatihan kecakapan hidup kepada para santrinya, yang diharapkan para santri akan mennjadi wirausahawan ketika berada ditengah masyarakat

Enterpreneur atau wirausahawan menurut wikipedia adalah orang yang melakukan aktivitas wirausaha yang dicirikan dengan pandai atau berbakat, mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun manajemen operasi untuk pengadan produk baru, memasarkannya serta mengatur permodalan operasinya. Sehingga seorang enterpreneur lebih menekankan pada inovasi usaha yang digelutinya. Ada beberapa perdebatan tentang definisi yang tepat dari seorang entrepreneur. Beberapa memiliki definisi luas yang mencakup siapa saja yang bekerja untuk diri mereka sendiri. Yang lain memiliki sudut pandang yang lebih sempit, menunjukkan bahwa seorang entrepreneur tidak hanya bekerja secara mandiri untuk bisnis mereka sendiri, tetapi bisnis mereka juga harus melibatkan inovasi dan kepemimpinan. mengejar bisnis baru, inovasi, atau bentuk usaha lain. Sebagai gantinya untuk mengambil risiko itu, mereka sering mendapat untung paling signifikan dari kesuksesan perusahaan mereka.

Dulu kiai melakukan perlawanan kepada penjajah secara total. Di sektor pendidikan, kiai tidak mau mengikutii sistim pendidikan ala Belanda dan mendirikan pesantren dengan sistim pendidikan dan pengajaran yang berbeda. Dalam sektor perekonomian, kiai berdagang dan membangun basis-basis ekonomi di kalangan umat Islam sendiri, sehingga muncul organisasi Serikat Dagang Islam yang awalnya merupakan serikat dagang untuk penguatan perdagangan umat Islam yang bersaing dengan para pedagang kafir yang oportunis. Pada wilayah perjuangan, kiai dan santri juga berjuang total melawan penjajah dengan jiwa raganya para santri dan pejuang ini sangat yakin dan percaya bahwa bagi yang syahid dalammelawan penjajah ini balasannya surga.

Kemandirian santri di pesantren inilah yang menjadi modal utama bagi lulusan pondok pesantren untuk menjadi wirausahawan tangguh, meskipun tidak semua pesantren mengajarkan semua bentuk ketrampilan kecakapan hidup, namun jiwa mandiri yang terbentuk selama menjadi santri, jiwa kepemimpinan yang diajarkan selama di pesantren bukan hanya menjadi bekal para santri untuk menjadi pemimpin ditengah masyarakat, namun juga menjadi bekal bagi munculnya wirausahawan baru.

Dunia ini adalah jembatan menuju akhirat. Kalau jembatannya tidak dibangun, bagaimana orang bisa lewat. Hal inilah yang menjadikan paradigma baru bagi kaum santri untuk tampill membangun jembatan yang kuat agat dapat melewatinya, bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun juga untuk orang lain yang membutuhkannya. Jiwa santri tidak akan puas jika hanya sebagai pekerja biasa, jiwa kemandiriannya yang telah terpupuk akan mencoba hal baru untuk melakukan pekerjaan secara mandiri, sehingga tidak heran jika muncul wirausahawan baru dari seorang santri.

Pada saat ini banyak pondok pesantren yang juga dilengkapi dengan kursus kecakapan hidup yang diharapkan menjadi bekal bagi para santri berwiraswasta selepas dari pondok pesantren. Namun bukan berarti santri dalam mengembangkan wirausaha tidak mendapat banyak halangan dan tantangan, hal ini terkait modal yang dimilikinya, belum lagi persaingan dengan produk luar negeri yang semakin hari semakiin membanjiri negeri, beberapa santri yang menjalankan kegiatan wirausaha ini juga banyak yang sukses di dunia politik, mereka menjadi pemimpin yang santun dan sangat peduli dengan masyarakat miskin.

Penampilan santri tidak harus selamanya dengan penampilan satri tradisional, Jiwa santri pada orang tidak berpenampilan santri, kepribadian santri di mana pun mereka eksis. Semangat dakwah bil hal, bil lisan terus mereka kembangkan dalam sistim perekonomian dan jiwa kepemimpinan, sehingga akan terlihat kepemimpinan dengan jiwa pesantren dengan kepemimpinan yang tidak dilandasi dengan keimanan, halini terlihat pada kepedulian pemimpin tersebut kepada masyarakat kecil dan kaum santri yang dulu mengobarkan semangat jihad untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik ini.

Penulis adalah guru MIN 1 Banyuwangi




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas